Babak Dua
kehidupanku tidak lah seindah semestinya, siapa yang aku persalahkan; diriku, dia, atau mereka. Tidaklah pantas menghakimi diri ini. Semua seakan bertolak belakang dengan apa yang terucap di mulut, terpikir di otak dan terasa di hati. Seakan permusuhan ketiganya terus berlanjut hingga dapat menghiasi hidup ini lebih monoton, dan selalu berjalan ditempat.
Aku tahu sekali ini sudah mendarah daging, keinginan yang kuat bahkan dengan tekad yang jelas hingga menggutuk diri sendiri dan selalu bertanya seperti inikah aku terlahir. Kadang sering mempertanyakan apa benar aku bagian dari keluarga ini. Apa benar aku selalu diselimuti awan hitam. Aku coba mencari siapa diri ini dengan menghindar dari segala masalah dan memulai masalah dengan masalah, bahkan kebohongan demi kebohongan terus tercipta dari mulut ini. Siapa aku?
Cerita demi cerita terukir di dinding memelas sebuah kasih sayang dari orang yang dekat dengan diriku. Terpuruk dalam jurang yang sama, terjebak dalam kenistaan. Walau aku tahu aku bisa keluar. Tapi apa aku siap?
Jenjang pendidikan yang aku raih kurang cukup membanggakan diriku , dia atau mereka. Toh, yang aku kejar tidaklah sama seperti mereka.
Kekuatannya sangat kuat, lagi aku membicarakannya. Kekuatan sampai kapanpun akan selalu unggul bahkan diseluruh dunia sangat terpengaruh olehnya. Aku hanya bisa tunduk takkala menempuh hidup lebih jauh lagi. Ke-tidak berdayaan-ku membuatku semakin terpuruk dan enggan untuk melangkah lebih jauh lebih baik. Dna ternyata aku belum siap untuk bertarung melawan-nya.
Aku hanya sebuah alat yang terus bergerak menyikuti irama kegelapan; penuh dengan kebohongan dan kebahagiaan.. dan semua itu hanya sebuah mimpi kosong.
Mimpi kosong seorang operator yang terjebak dalam kotak dunia lain, dunia maya. Seharusnya ku bisa melihat dunia, dan mendapat semua yang kau inginkan di dunia itu. Tapi apakah dunia itu mengetahui aku seutuhnya? Dunia penuh dengan kebohongan.
Disisi lain aku menemukan kedamaian tak kala aku jenuh dengan kebohongan, aku menemukan sahabat, teman bahkan tak kupungkiri aku temukan "keluarga"ku yang hilang.
Aku mendapatkan berbagai cerita dari dunia maya sebagai operator.
Mulai dari sekedar iseng ber chatting, (sumber kebohongan), bercerita dengan orang ta dikenal, bahkan aku menemukan jalan yang sangat berbeda dengan diriku selama ini.
Waktu terus berlalu seiring aku memasuki comfort zone . Aku terbiasa dan terlena hingga perlahan aku bisa mengalahkan kekuatan mustahil sedikit demi sedikit. Dan aku pun kenal mereka, salah satu teman 'nyata' dan aku pun merasa nyaman dengan mereka. Indera dunia lain pun berasa sekali ketika bersama mereka saat senang maupun sdih.
Dengan sedikit petuah bijak dari mulut dan kejujuran hingga saat ini mereka selalu ada. KEJUJURAN yang aku utamakan dan tak pernah sedikitpun kebohongan yang aku ciptakan.
Namun, keegoan aku dan mereka memisahkan jarak nyata dan aku kembali kedunia maya menciptakan kebohongan demi kebohongan, tapi tidak pada mereka.
Kadang aku risih namun aku juga bangga, mereka tidaklah seperti yang lain. Mereka mempunyai pendirian dan prinsip yang kuat tentang hidup. Dan kepada mereka pula aku kembali saat aku mulai jatuh terlalu dalam dalam kebohongan.
"only two kind of people i known, bastardo and ...."
Thanks to them i am still alive.
No comments:
Post a Comment