Tuesday, February 23, 2010

pedophil... si tua bangka.

Si tua bangka berjalan menelusuri pinggiran kota, beban yang berat terlihat dari jejak langkah yang terukir di jalanan. Perlahan-lahan kota demi kota, cerita demi cerita telah dia alami, lelaki tua bangka.
Si tua bangka habiskan waktu di jalanan. Gemerlap sinar kota tak membutakannya, hembusan angin dunia tidak menggoyahkannya. Terus berjalan mencari arti kehadiran dirinya.
Tua bangka, duduk di persimpangan menatap sebuah papan reklame. Seakan tertegun akan keelokan dan kecantikan sang bintang. Tersenyum manis menghangatkan dinginnya malam, tatapan tulus berikan harapan, esok perjalanan masih panjang.
Sang bintang iklan hanyalah sebuah ilusi, menjanjikan kemewahan, keindahan hanya demi kepuasan dunia. Entah berapa lama dia terdiam di persimpangan menunggu sang predator mengganti tempatnya.
Si tua bangka tersenyum, haru biru tangis basahi pipi lenyapkan haus. Lelaki tua ingin melepas topeng sang bintang iklan dan dijadikannya teman perjalanan hidupnya.
Si tua bangka tersadar ini hanya ilusi untuk menahan dirinya dan berhenti berlayar mencari kehidupan. Dipersimpangan itu lelaki tua berdiri dan lenjutkan perjalannan yang terasa lebih ringan tanpa beban.

Si tua bangka,
bisu bukan tak bermulut
tuli bukan tak bertelinga
buta bukan tak bermata

pernah satu kali merasa bangga
tak hanya diam kala sedih


lelaki tua di tengah kota
mati di tinggal nama

lelaki tua si tua bangka
berpayung duka

cinta lelaki tua
hanya pada bidadari kecil...

lelaki tua.. si tua pedopilia.

No comments: