Mungkinkah aku masih memiliki perasaan yang sama dengan mereka? atau telah hilang semua perasaan (hati) karena diriku terlalu terjerumus dengan logika.
Ketakutan yang dalam akibat kekecewaan dari segala benih yang tertanam dihati, sehingga diri ini seakan rapuh menghadapi kegagalan. Dan persoalan yang ada bukan hanya tentang dia atau mereka tetapi tentang diriku.
Aku tahu bahwa semua tak sama dan pasti berubah tapi apa aku bisa menerima perubahan sedang diri ini sungguh sulit untuk berubah walau sedetik. Logika yang terlalu mendalam sehingga takut bermain dengan perasaan. Sekali bermain dengan perasaan, aku pun mati seakan logika tidak bisa menerima kehadiran dirinya disampingku (lagi).
benarkah aku terlalu meyakini dia terlalu menyakitkan untuk dirasakan, dinikmati bahkan untuk dimiliki ? Perasaan akan dirinya tidaklah selalu berakhir kebahagiaan yang selalu aku idamkan. Aku terjebak bahwa luka itu terlalu menyakitkan untuk dilihat dan dirasakan. Serpihan kaca cermin berserakan menunggu sang waktu menguburnya. Noda hitam terus menempel dalam diriku dan dirinya.
Aku masih takut untuk memilikinya kembali.
Aku masih takut untuk merasakannya kembali.
Komitmen yang aku buat selama ini terhadap mereka msh menempel di pikiran namun perlahan terkikis perasaan yang sama bahwa aku bukanlah yang pertama dan yang terbaik namun aku masih bisa menjadi yang terbaik dengan segala daya dan upaya.
Aku terlalu jauh melangkah,
Aku terlalu dalam menyelam,
Aku terlalu lama tertidur dalam khayalan.
siapa aku ? siapa dia ? siapa mereka? yang akan menjadi penerang jalan hidupku.
Aku
dia
mereka...
masih memiliki perasaan yang sama.
aku takut.
No comments:
Post a Comment